daun berjatuhan

Senin, 24 November 2014

Susahnya menjadi Pelajar di Indonesia

Belakangan ini, saya disibukkan oleh berbagai macam pelajaran yang harus saya pelajari demi menyelesaikan kompetensi kelulusan nilai berdasarkan kurikulum. Ditambah saya mengikuti les tambahan yang mengakibatkan saya baru bisa pulang ke rumah pada pukul 20.30
Ya, saya memang lebih sering di luar daripada di rumah saya sendiri. Setiap Senin sampai jum’atsaya harus bersekolah dari jam 07.00 -14.15 , memang saya masih lebih beruntung dari teman saya yang setiap hari les sampai malam dan bahkan Sabtu Minggu juga harus les.
Belum lagi, tugas sekolah yang menumpuk, tugas kelompok, eskul serta tuntutan remedial yang memakan waktu di luar sekolah menyebabkan saya semakin sedikit waktu luang untuk bermain, ngeblog, browsing, apalagi refreshing dan berkumpul bersama keluarga. Lebih dari setengah waktu saya dalam seminggu digunakan untuk urusan sekolah,
Disela2 kelelahan saya, saya mulai berpikir. Apakah sekolah itu adalah sumber ilmu paling banyak? Mengapa waktu di sekolah yang menjadi prioritas terbanyak? Mengapa sekolah menyebabkan saya kehilangan banyak hal?
Setelah saya selidiki, usut punya usut. Sekolah ternyata hanya memberikan saya sekitar 28% Ilmu yang berguna bagi kehidupan, sekitar 53% saya dapatkan dari keluarga/lingkungan/teman2 di dunia nyata dan dunia maya, serta sisanya dari berita2. Ya, keluarga dan lingkunganlah sumber ilmu yang paling banyak untuk kehidupan. Pelajarannya bukan berupa Fisika, Matematika, Sejarah, atau apalah. Melainkan pelajaran mengenai kehidupan.
Keluarga adalah sosok yang tidak mungkin bisa dilepaskan dalam masa2 awal kehidupan, keluarga yang saya maksud tidak selamanya berarti ayah dan ibu. Bisa juga kakak, adik, nenek, kakek, paman, bibi, om, tante, atau yang lainnya. Bersama keluarga anda akan mendapatkan pengalaman2 yang berguna untuk kehidupan anda nanti.
Tapi, jika sekarang saya kehilangan waktu untuk berkumpul bersama keluarga lebih lama atau bahkan waktu saya lebih banyak di sekolah. Mungkin saya akan kehilangan kesempatan mendapatkan pengalaman itu, saya bahkan juga akan kehilangan waktu untuk ngobrol2 dan bercerita mengenai bagaimana kabar saya hari ini. Karena ketika saya pulang dan sampai rumah, saya kembali disibukkan oleh tugas2 sekolah dan setelah itu saya yang sudah terlalu capek pun setelah makan, mandi, dan shalat langsung tertidur. Mana waktu untuk keluarganya?
Jika terus menerus seperti ini selama bertahun2, perlahan tapi pasti. Saya telah merugi banyak hal, seperti merugi waktu untuk berkumpul bersama keluarga, kehilangan beberapa pengalaman yang bisa saya dapatkan andaikata bisa lebih lama bersama keluarga, tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dan rentan akan stres. Kurikulum Pendidikan Indonesia yang terlalu padat, satu hari 10 jam pelajaran langsung harus ditelan habis oleh Siswa-Siswi yang sebenarnya masih butuh waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Pendapat anda?

Sumber : http://ultraseven.wordpress.com/2009/02/17/susahnya-jadi-pelajar-di-indonesia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar