Susahnya menjadi Pelajar di Indonesia
Belakangan ini, saya
disibukkan oleh berbagai macam pelajaran yang harus saya pelajari demi
menyelesaikan kompetensi kelulusan nilai berdasarkan kurikulum. Ditambah saya
mengikuti les tambahan yang mengakibatkan saya baru bisa pulang ke rumah pada
pukul 20.30
Ya, saya memang lebih
sering di luar daripada di rumah saya sendiri. Setiap Senin sampai jum’atsaya
harus bersekolah dari jam 07.00 -14.15 , memang saya masih lebih beruntung dari
teman saya yang setiap hari les sampai malam dan bahkan Sabtu Minggu juga harus
les.
Belum lagi, tugas
sekolah yang menumpuk, tugas kelompok, eskul serta tuntutan remedial yang
memakan waktu di luar sekolah menyebabkan saya semakin sedikit waktu luang
untuk bermain, ngeblog, browsing, apalagi refreshing dan berkumpul bersama
keluarga. Lebih dari setengah waktu saya dalam seminggu digunakan untuk urusan
sekolah,
Disela2 kelelahan saya,
saya mulai berpikir. Apakah sekolah itu adalah sumber ilmu paling banyak?
Mengapa waktu di sekolah yang menjadi prioritas terbanyak? Mengapa sekolah
menyebabkan saya kehilangan banyak hal?
Setelah saya selidiki,
usut punya usut. Sekolah ternyata hanya memberikan saya sekitar 28% Ilmu yang
berguna bagi kehidupan, sekitar 53% saya dapatkan dari keluarga/lingkungan/teman2
di dunia nyata dan dunia maya, serta sisanya dari berita2. Ya, keluarga dan
lingkunganlah sumber ilmu yang paling banyak untuk kehidupan. Pelajarannya
bukan berupa Fisika, Matematika, Sejarah, atau apalah. Melainkan pelajaran
mengenai kehidupan.
Keluarga adalah sosok
yang tidak mungkin bisa dilepaskan dalam masa2 awal kehidupan, keluarga yang
saya maksud tidak selamanya berarti ayah dan ibu. Bisa juga kakak, adik, nenek,
kakek, paman, bibi, om, tante, atau yang lainnya. Bersama keluarga anda akan mendapatkan
pengalaman2 yang berguna untuk kehidupan anda nanti.
Tapi, jika sekarang saya
kehilangan waktu untuk berkumpul bersama keluarga lebih lama atau bahkan waktu
saya lebih banyak di sekolah. Mungkin saya akan kehilangan kesempatan
mendapatkan pengalaman itu, saya bahkan juga akan kehilangan waktu untuk
ngobrol2 dan bercerita mengenai bagaimana kabar saya hari ini. Karena ketika
saya pulang dan sampai rumah, saya kembali disibukkan oleh tugas2 sekolah dan
setelah itu saya yang sudah terlalu capek pun setelah makan, mandi, dan shalat
langsung tertidur. Mana waktu untuk keluarganya?
Jika terus menerus
seperti ini selama bertahun2, perlahan tapi pasti. Saya telah merugi banyak
hal, seperti merugi waktu untuk berkumpul bersama keluarga, kehilangan beberapa
pengalaman yang bisa saya dapatkan andaikata bisa lebih lama bersama keluarga,
tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dan rentan
akan stres. Kurikulum Pendidikan Indonesia yang terlalu padat, satu hari 10 jam
pelajaran langsung harus ditelan habis oleh Siswa-Siswi yang sebenarnya masih
butuh waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Pendapat anda?
Sumber : http://ultraseven.wordpress.com/2009/02/17/susahnya-jadi-pelajar-di-indonesia/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar